Dulu, Linux mungkin identik dengan command line interface, tapi kini sudah tidak lagi. Kami akan menunjukkan kepada Anda betapa mudahnya menggunakan Linux tanpa command line.Masih segar di ingatan penulis beberapa tahun yang lalu betapaberbagai pihak memandang Linux tidaklah lebih dari MSDOS. Bukan dari sisi kemampuan multitasking-nya, tapi dari sisi penggunaan. Opini yang sempat (dan sesekali masih) terdengar adalah Linux adalah sistem operasi yang ketika penggunanya ingin melakukan apa saja, maka harus selalu menggunakan command line interface, yang parahnya terkadang membutuhkan parameter yang aneh-aneh. Mau melakukan hal yang sederhana, misalnya meng-copy-kan suatu file ke lokasi lain, harus mengetikkan perintah seperti halnya MSDOS. Dalam satu atau dua tahun belakangan, sejak makin populernya KDE dan GNOME serta berbagai distro lain seperti SuSE dan Red Hat, barangkali persoalan meng-copy file, mendaftar file dalam suatu direktori dan berbagai operasi file sistem dasar mungkin bisa diatasi dengan penggunaan tool yang datang bersama desktop KDE atau GNOME. Tapi, masih ada yang berpendapat bahwa pengaturan jaringan, pengaturan keyboard, penambahan program, dan lain sebagainya masih harus dijalankan di modus command line interface. Opini tersebut kini tidak sepenuhnya up to date. Sudah tidak relevan lagi di saat ini. Memang, Linux menyediakan berbagai fleksibilitas untuk penggunaan command line dalam melakukan penyelesaian masalah tertentu. Tapi, pengguna komputer tidak semuanya geek yang bersedia berjam-jam duduk di depan komputer untuk menyelesaikan masalah sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih mudah dengan cara lain.