Di Indonesia, bahkan juga di dunia, banyak sekali yang berpikiran bahwa Linux itu ‘gratis’. ‘Gratis’ di sini, setelah saya berbincang-bincang dengan rekan sesama mahasiswa, banyak yang mengasosiasikan dengan ‘free of charge’, alias tidak bayar. Di Wikipedia, Gratis itu adalah :

“process of providing goods or services without compensation”

yang jika diartikan adalah proses memberikan/menyediakan barang atau jasa tanpa kompensasi. Dan saya tidak menyalahkan, karena hal ini terjadi di hampir semua kalangan yang masih ‘awam’ dengan pengertian opensource. Jika linux itu ‘gratis’, kenapa menggunakan julukan ‘opensource software’, bukan ‘free software’?

Ternyata, menurut Richard M. Stallman, dedengkotnya dunia linux, opensource software sendiri telah kehilangan poin utama dari namanya sendiri. Seharusnya, opensource software itu memiliki makna bahwa kebebasan utama dari penggunanya yang dipertahankan. Kebebasan utama ini tidak berkaitan dengan harga atau uang. Menurut situs GNU di SINI, Kebebasan Utama yang harus dimiliki oleh pengguna dalam penggunaan opensource software adalah sebagai berikut :

  1. Kebebasan untuk menjalankan program tersebut, untuk tujuan apa pun (kebebasan nomor 0).
  2. Kebebasan untuk mempelajari bagaimana suatu program bekerja, dan mengubahnya agar bisa melakukan hal yang diinginkan (kebebasan nomor 1). Akses ke kode sumber dari program adalah kondisi awal dari kebebasan ini.
  3. Kebebasan untuk mendistribusi-ulang copy dari program tersebut agar bisa menolong orang lain (kebebasan nomor 3).
  4. Kebebasan untuk mendistribusikan copy program tersebut yang telah kita modifikasi kepada orang lain (kebebasan nomor 4). Dengan melakukan hal ini kita bisa memberikan kepada komunitas keuntungan dari modifikasi tersebut. Akses ke kode sumber yang telah dimodifikasi tersebut merupakan kondisi awal dari kebebasan ini.

Pada keempat kebebasan utama tersebut, tidak dibicarakan mengenai apakah kita bisa menjual program tersebut? Menurut situs GNU lagi, menjual program opensource boleh dilakukan. Mengenai penjelasannya, bisa dibaca di SINI. Di situ dijelaskan bahwa tidak ada permasalahan mengenai menjual program opensource. Tetapi, yang harus diperhatikan adalah bahwa jika menjual program opensource, maka program tersebut tidak boleh dijadikan program propietary (closed source). Kita harus menyertakan kode sumber dari program tersebut pada saat mendistribusikannya, atau paling tidak kita menyediakan cara agar orang yang mendapatkan program tersebut bisa memperoleh kode sumber tersebut dengan mudah.

Lalu, banyak mungkin yang bertanya-tanya, jika semua orang bisa menggunakan kode sumber dengan mudah, lalu bagaimanakah suatu bisnis yang mengandalkan program opensource bisa mendapatkan keuntungan? Menurut Bapak I Made Wiryana, salah satu dosen Universitas Gunadarma, pada salah satu artikelnya yang dibuat ketika beliau masih menjadi mahasiswa doktoral di Jerman, mengatakan banyak sekali jenis bisnis yang bisa dan sudah biasa dilakukan oleh opensource bisnis saat ini. Untuk lebih lengkapnya (karena cukup panjang penjelasannya), bisa disimak artikelnya yang saya temukan di SINI.